
Sumber: hidupkatolik.com
Bertani Hanya untuk Orang Desa?
Pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa profesi petani sering dianggap pekerjaan “kelas bawah”? Bahkan di jurusan pertanian sendiri, tak sedikit mahasiswanya yang menganggap bahwa sawah hanya sarana praktikum, bukan sebuah masa depan karir.
Bertani identik dengan orang desa, atau pensiunan yang ingin hidup tenang di masa tua. Anak muda lebih memilih bersaing ketat dengan lowongan yang makin terbatas untuk mendapatkan pekerjaan kantoran daripada harus kotor dengan lumpur di ladang.
Ironisnya lagi, dari 40,64 juta petani di Indonesia, hanya 3,94 juta yang berusia 16–30 tahun. Artinya, mayoritas petani kita sudah menua, sementara minat generasi baru makin menipis.
Padahal, sejak 2013, jumlah usaha pertanian perorangan bahkan menyusut dari 31,70 juta menjadi 29,34 juta. Krisis regenerasi petani nyata di depan mata. Profesi petani tetap dipandang sebagai pekerjaan kelas bawah, kasar, jauh dari kata keren.
Lalu muncullah sosok yang berbeda. Maya Stolastika Boleng, lulusan Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya yang berasal dari Flores. Di saat banyak anak muda sibuk mengejar lowongan kantor yang kian sempit, Maya justru memilih jalan yang jarang dilirik, yaitu menjadi petani organik di Pacet, Mojokerto.
Wanita kelahiran Waiwerang, Flores Timur itu membuktikan bahwa bertani bisa menjadi profesi yang tak kalah kelasnya. Bisa berdampak besar ketika dikelola dengan ilmu, manajemen, dan idealisme menjaga bumi.
Melalui Twelve’s Organic, ia tak hanya membantu petani bangkit, tetapi juga memperlihatkan bahwa di tengah lapangan kerja yang makin sempit, bertani dapat menjadi jalan keluar yang nyata bagi anak muda.
Dari Sastra ke Sawah
Semasa kuliah di jurusan Sastra Inggris, Maya sama sekali tidak membayangkan bahwa suatu hari dirinya akan berkenalan dengan dunia pertanian. Namun suatu pengalaman singkat di Bali mengubah arah pikirannya. Saat mengikuti kegiatan di Bali, Maya disuguhi jus wortel organik oleh seorang guru yoga. Minuman jus wortel itu rasanya lebih segar, manisnya beda, berbeda dengan wortel yang biasa ia kenal.
Selama dua minggu di Bali, sang guru mengajaknya memandang tanaman seperti makhluk hidup, bahwa manusia punya tanggung jawab merawatnya. Sebelum kembali ke Surabaya, guru yoga itu menantang Maya dan teman-temannya sebagai seorang mahasiswa. Tantangan untuk dapat menciptakan sebuah perubahan kecil yang membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Terinspirasi oleh tantangan itu, Maya mengumpulkan dana dari kerja les dan berjualan pulsa, lalu menyewa lahan setengah hektare di Dusun Claket, Pacet, Mojokerto pada 2008 untuk menanam sawi, meski tanpa latar belakang pertanian. Dengan rutinitas barunya sebagai petani sekaligus mahasiswa aktif, Maya dan teman-temannya bekerja keras mengatur waktu.
Kegagalan itu tidak membuat mereka berdua menyerah. Justru Maya dan Herwita memutuskan kembali ke Bali untuk belajar lebih dalam tentang pertanian organik. Mereka mempelajari cara mengolah lahan, membuat pupuk alami, hingga manajemen sederhana untuk menghidupkan usaha tani agar bisa menjual hasil panen dengan optimal.
Baru pada tahun 2012, Maya memulai langkah baru. Ia menyewa lahan seluas 3.000 meter persegi di Dusun Claket, Pacet. Di sanalah ia mendirikan Twelve’s Organic, sebuah komunitas yang bukan hanya memproduksi sayur dan buah organik, tapi juga memberi penyuluhan dan memberdayakan petani lokal.
Pertanian Organik Merupakan Ilmu, Filosofi, dan Gaya Hidup
Visi Maya jelas, yaitu menjadikan pertanian organik sebagai jalan hidup yang bisa mengangkat derajat petani. Bagi Maya, pertanian organik tidak sekadar tentang menghasilkan sayur tanpa pupuk kimia. Ia memandangnya sebagai gabungan antara ilmu pengetahuan, filosofi hidup, sekaligus inspirasi.
Pertanian organik adalah sistem bercocok tanam yang menolak bahan kimia sintetis, menjaga tanah tetap gembur dengan kompos alami, melindungi keseimbangan ekosistem, sekaligus menghasilkan pangan sehat yang bisa dikonsumsi tanpa rasa khawatir
Hingga kini, Twelve’s Organic telah memiliki 13 kebun yang tersebar di Dusun Claket dan Mligi, Mojokerto, dengan luas total sekitar 1,5 hektare. Dari kebun-kebun itu lahir sekitar 70 jenis buah, sayuran, dan umbi-umbian, dengan omzet rata-rata mencapai Rp20 juta per bulan. Angka itu memang penting, tetapi bagi Maya bukan hanya itu tujuan utamanya.
Hal yang lebih berharga adalah keberhasilan menginspirasi petani lokal agar berani mengolah lahan terbengkalai menjadi kebun yang subur dan berkelanjutan. Sekaligus belajar bagaimana membentuk pasarnya sendiri, agar tidak selalu bergantung pada tengkulak.
Misi itu juga ia bagikan ke anak muda yang lain melalui media sosial. Maya ingin mengubah cara pandang generasi seangkatannya, bahwa petani bukan profesi “rendahan” melainkan pekerjaan yang membanggakan, karena bisa memberikan dampak positif yang luas.
Ia pernah berkata, “Seorang petani dalam keadaan untung ataupun rugi dia akan bertahan menjadi petani. Bukan karena tidak tahu, ataukah menikmati kesengsaraan, tapi dia sadar dia di situ memberikan pangan. Kalau dia tidak membakar punggungnya, orang-orang bahkan semua insan manusia tidak akan makan apa-apa.”
Kalimat itu seolah merangkum filosofi Maya, bahwa bertani organik bukan hanya tentang panen, melainkan juga tanggung jawab menjaga alam untuk kehidupan manusia selanjutnya.
Tantangan yang Menguji Petani Muda
Krisis regenerasi pertanian di Indonesia nyata adanya. Minimnya minat generasi baru untuk turun ke sawah berakar pada stigma lama, yakni petani dianggap profesi orang desa, pekerjaan untuk pensiunan, atau bahkan takdir yang malang.
Bagi banyak anak muda, bertani masih jauh dari kata keren. Bahkan, orang tua Maya juga menganggap pilihan putrinya menjadi petani organik adalah keputusan absurd. Bahkan beberapa orang menilai Maya tidak mampu bersaing di dunia kerja formal hanya karena pilihannya yang berbeda.
Selain itu, hambatan struktural juga besar. Modal, pengetahuan teknis, dan akses pasar terbatas, membuat profesi petani semakin berat dijalani. Masalah klasik lain pun tak kunjung hilang, harga jual yang rendah dan risiko gagal panen.
Maya dan teman-temannya pernah merasakan langsung kenyataan pahit itu. Saat pertama kali menyewa lahan 0,5 hektare di Dusun Claket, Mojokerto pada 2008, mereka menanam caisim tanpa bekal ilmu pertanian maupun strategi pemasaran.
Hasil panen mencapai 1,2 ton, tapi mereka tak tahu cara menjualnya. Sayuran itu pun terbuang percuma, sementara modal yang dikumpulkan dari mengajar les dan berutang habis begitu saja. Tiga temannya memilih mundur, menyisakan Maya dan Herwita Rosalina yang bertahan dengan sisa semangat.
Kegagalan awal itu menjadi gambaran nyata masalah yang menjerat petani Indonesia. Bukan hanya tantangan yang harus dihadapi di sawah, tapi juga di pasar. Tanpa ilmu, tanpa akses, tanpa modal yang cukup, wajar bila banyak anak muda menghindari profesi ini.
Solusi yang Diterapkan
Maya paham betul, masalah petani tidak akan selesai hanya dengan menanam lebih banyak. Akar persoalan ada di sistem, di pola pikir, dan di pasar. Karena itu, sejak awal ia membangun Twelve’s Organic bukan hanya sebagai kebun, tapi sebagai komunitas belajar.
Di komunitas ini, para petani lokal diajak duduk bersama, belajar cara membuat pupuk organik, mengatur rotasi tanaman, sampai menghitung biaya produksi dan keuntungan. “Petani harus bisa jadi manajer untuk kebunnya sendiri,” kata Maya suatu kali. Dengan begitu, mereka tidak lagi bergantung pada tengkulak yang selama ini menentukan harga seenaknya.
Pasar pun diciptakan langsung. Hasil panen tidak lagi melewati rantai panjang dari petani ke pengepul, lalu pasar, baru sampai ke konsumen. Sayuran segar Twelve’s Organic langsung masuk ke rumah tangga, restoran, hingga rak supermarket di Surabaya dan Sidoarjo. Konsumen mendapat produk sehat, petani pun menikmati harga yang lebih adil.
Maya juga menghidupkan lahan tidur. Tanah yang dulunya kosong dan terlantar di Dusun Claket dan Mligi kini penuh warna. Mulai dari hijau sayuran, merah tomat, kuning paprika, hingga buah-buahan unik seperti raspberry dan blueberry. Baginya, setiap lahan kosong adalah peluang, dan setiap peluang berarti harapan baru.
Ada satu hal lain yang istimewa yaitu keterlibatan perempuan warga lokal. Maya percaya, para ibu rumah tangga lebih mudah menyerap ilmu baru dan memiliki pengaruh besar pada keluarganya. Ketika seorang ibu menanam sayuran organik, anak-anaknya pun tumbuh dengan cara pandang baru bahwa bertani bukan pekerjaan kelas bawah, melainkan profesi berkelas.
Dengan cara itu, solusi yang dibangun Maya bukan lagi sekadar tentang hasil panen, tapi juga membentuk sistem yang lebih adil, berkelanjutan, dan menginspirasi.
Dampak yang Dirasakan
Pelan tapi pasti, langkah Maya mulai berbuah. Dari kebun kecil yang dulu sering gagal panen, kini Twelve’s Organic menaungi sekitar 25 petani lokal. Mereka bisa panen rutin antara 50 sampai 120 kilogram sayuran per minggu, angka yang dulunya terasa mustahil.
Dampak paling nyata terasa pada penghasilan. Selama ini, petani sering kalah di pasar karena harus menjual hasil panen melalui tengkulak dengan harga murah. Konsumen tetap membayar mahal di ujung rantai, tapi selisih keuntungan tak pernah kembali ke petani.
Maya memutus rantai itu. Melalui Twelve’s Organic, sayuran organik langsung dipasarkan ke rumah tangga, restoran, dan supermarket di kota terdekat.
Hasilnya jelas, petani memperoleh harga yang lebih adil dan stabil, sementara konsumen mendapat produk segar, sehat, dan ramah lingkungan. Rantai distribusi yang lebih pendek menciptakan sistem yang transparan, dan dari situlah tumbuh kembali rasa percaya antara mereka yang menanam dan mereka yang menikmati hasil panen.
Dampak lain yang tak kalah penting adalah perubahan mindset. Generasi muda mulai melihat bahwa bertani bukan sekadar pekerjaan kasar atau profesi kelas bawah. Maya, lewat postingan media sosial dan aktivitas komunitasnya, menunjukkan bahwa bertani bisa menjadi karier berkelas dengan prospek cerah.
Usaha Maya pun mendapat pengakuan nasional. Pada 2019, ia dianugerahi SATU Indonesia Awards dari Astra sebagai sosok muda inspiratif. Namanya juga kerap menghiasi berbagai liputan media, menandakan bahwa kisahnya bukan hanya relevan bagi petani, melainkan juga inspirasi bagi generasi muda di seluruh Indonesia.
Perjalanan Maya Stolastika Boleng membuktikan bahwa lewat pertanian organik, petani bisa mendapatkan penghasilan yang layak sambil tetap menjaga lingkungan sekitar. Dari kebun organik di Pacet, Mojokerto, ia menunjukkan kalau profesi petani bisa dijalani dengan cara yang lebih modern, sehat, dan berkelanjutan.
Apa yang dilakukan Maya juga memberi pesan jelas untuk anak muda agar tidak takut memilih jalan yang berbeda. Meski sering dianggap aneh atau tidak umum, keputusan itu bisa membawa perubahan besar. Ia berani memutus rantai distribusi yang merugikan petani, menghidupkan lahan tidur, melibatkan warga lokal, terutama para wanita. Hasilnya, pertanian punya wajah baru, yaitu petani yang mandiri, sejahtera, dan peduli dengan alam.
Dari Pacet, kisah Maya mengalir jauh melampaui kebunnya. Ia memberi bukti nyata bahwa bertani bisa jadi profesi berkelas, dan di tangan anak muda, pertanian Indonesia masih punya harapan besar. #APAxKBN2025
Sumber:
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/10/19/maya-stolastika-boleng-petani-milenial-mojokerto
https://www.hidupkatolik.com/2024/02/22/76010/maya-stolastika-boleng-petani-organik-milenial.php
https://www.antaranews.com/berita/1561968/maya-stolastika-geser-citra-petani-jadi-berkelas
https://mediaindonesia.com/humaniora/296031/yakin-dengan-masa-depan-pertanian-organik
Honestly, j8casino has a surprisingly good selection of slots. I appreciate the variety! A little bonus luck would be nice, though, haha! Head over to: j8casino
I downloaded this yesterday and I am completely hooked already. The bonus terms are super clear and I actually got my first payout without any drama. The app never crashes and I can manage my balance so easily. You really should give this a shot if you want a stress free gaming night. billy777apk
77Winapps – if there is an app, then this is so much more convenient! Download the app and win!! Here is the link: 77winapps