Saat pertama kali memutuskan untuk serius menulis, aku pikir yang aku butuhkan hanya sebuah ide, laptop, dan waktu luang. Tapi ternyata, prosesnya jauh lebih kompleks dari itu.
Seiring waktu, aku sadar bahwa banyak kesalahan penulis pemula yang secara nggak sadar aku lakukan dan itu cukup menghambat perkembangan menulisku di awal-awal.

Dalam tulisan ini, aku ingin berbagi lima kesalahan yang pernah aku lakukan saat memulai perjalanan menulis—yang mungkin juga kamu alami.
Tentu, aku juga ingin membagikan bagaimana aku belajar menghindarinya agar kamu bisa menulis dengan lebih lancar dan percaya diri.
1. Terlalu Perfeksionis: Kesalahan Penulis Pemula yang Sering Terjadi
Sampai sekarang, aku masih sering terjebak terlalu lama di paragraf pembuka. Rasanya setiap kata harus terdengar indah, setiap kalimat wajib kuat. Aku ingin tulisan langsung terasa “wah” sejak awal.
Tapi alih-alih menghasilkan tulisan, aku justru terhenti di titik start dan kehilangan momentum. Kesalahan ini umum terjadi, terutama dalam penulisan kalimat.
Perfeksionisme bisa membuat kita kehilangan alur, semangat, bahkan percaya diri.
Pelan-pelan, aku mulai belajar untuk melepaskan tuntutan perfeksionis di tahap awal. Sekarang, aku mencoba fokus dulu menyelesaikan draft tanpa terlalu menghakimi tiap kalimat yang kutulis.
Hasil tulisan bisa diperbaiki nanti, asal tidak berhenti di tengah jalan.
Konsepnya: done is better than perfect. Naskah yang buruk bisa diperbaiki nanti, tapi kalau tidak selesai, tidak akan pernah bisa dibaca siapa pun.
Selain itu, aku juga menyadari bahwa salah satu akar perfeksionisme adalah kurangnya “bahan mentah” untuk ditulis.
Mulai dari kosakata terbatas, referensi yang minim, dan struktur kalimat yang terasa kaku. Maka, ada beberapa hal yang aku lakukan untuk mengatasinya:
Writing Hack untuk Melawan Perfeksionisme:
- Banyak membaca karya orang lain untuk memperluas kosakata dan gaya bahasa.
- Lakukan riset di waktu yang terpisah dari sesi menulis. Ini penting agar tidak terdistraksi dan bisa fokus membangun kalimat saat menulis.
- Hindari membuka terlalu banyak tab atau membaca karya yang justru bikin kamu minder. Riset cukup untuk membekali, bukan membandingkan.
- Gunakan freewriting selama 10–15 menit sebagai pemanasan. Menulis bebas tanpa diedit untuk membangun momentum dan mengalirkan ide-ide yang ada di kepala saat itu.
- Ingat bahwa draf pertama bukan untuk dinilai, tapi untuk diselesaikan.
Dengan kebiasaan ini, aku mulai bisa melepaskan tekanan “kalimat pertama harus sempurna” dan lebih fokus pada alur cerita secara keseluruhan.
2. Menulis Tanpa Tujuan atau Outline (yang Bisa Diikuti)
Saat pertama kali aku mulai serius belajar menulis, aku sebenarnya bukan tipikal penulis yang spontan. Aku justru tidak bisa memulai menulis tanpa membuat outline.
Tapi sayangnya, outline yang kubuat sering terasa asal-asalan dan nggak benar-benar membantuku saat mulai menulis.
Apa yang terjadi justru saat proses menulis mulai jalan, aku sering merasa outline itu tidak relevan atau membingungkan. Tapi alih-alih memperbaikinya, aku memilih untuk lanjut menulis tanpa panduan.
Hasilnya? Aku mulai kehilangan arah, ide awal kabur, dan tulisan berhenti di tengah jalan.
Pernah terlintas di benakku, “Apa aku memang nggak cocok menulis pakai outline?” Tapi menulis langsung juga semakin membuatku kesulitan menyelesaikan naskah.
Setelah berkali-kali mengalami hal yang sama, aku sadar bahwa masalahnya bukan pada outline-nya, tapi bagaiman caraku menyusunnya.
Outline yang terlalu kaku justru bikin aku terjebak pada struktur yang belum matang, apalagi kalau aku sendiri belum yakin bentuk terbaik untuk ceritaku.
Hasilnya, ketika mulai menulis, alurnya terasa hambar, kaku, bahkan membingungkan.
Di titik itu, aku malah kehilangan semangat untuk melanjutkan karena naskahnya terasa “nggak hidup”.

Dari situ, aku belajar bahwa sebelum mulai menulis, aku perlu meluangkan waktu untuk menyusun outline yang benar-benar “matang”, bukan asal jadi.
Outline harus cukup jelas untuk membantuku melangkah tanpa kehilangan arah di tengah jalan.
Buat kamu yang mungkin punya pengalaman serupa, ini beberapa pendekatan yang aku pakai sekarang:
Tips Bikin Outline yang Ringan tapi Efektif:
- Fokus ke inti cerita, bukan urutan adegan. Cukup tuliskan 1–2 kalimat yang menjawab: Siapa tokohnya? Apa konfliknya? Bagaimana ending-nya? Ini membantu kamu tetap pada garis besar tanpa perlu tenggelam dalam detail sejak awal.
- Gunakan “anchor scene”. Mulai dengan menuliskan adegan pembuka, titik balik (turning point), dan ending. Bayangkan seperti tiga paku utama yang menjaga struktur cerita tetap kokoh.
- Bikin checklist ide, bukan alur lengkap. Misalnya: “Tokoh kehilangan pekerjaan”, “Tokoh bertemu teman lama”, “Konflik dengan keluarga”. Kamu nggak harus langsung menyusunnya secara kronologis, biarkan fleksibel dulu.
- Tulis outline di media yang mudah diubah. Sticky note, Google Docs, atau Notion. Supaya kamu bisa ubah kapan pun tanpa merasa bersalah. Outline yang fleksibel bikin kamu tetap bebas mengeksplorasi.
- Sisihkan waktu khusus untuk menyusun outline secara fokus. Hindari multitasking saat menyusun kerangka tulisan. Dengan begitu, kamu bisa lebih jernih merancang alur tanpa terdistraksi atau minder setelah membaca referensi orang lain.
Dengan cara ini, sekarang aku tetap merasa bebas saat menulis, tapi nggak lagi kehilangan arah. Outline bukan sekadar formalitas, tapi jadi alat bantu yang benar-benar kupakai sampai tulisan selesai.
3. Terpaku pada Target Kata: Kesalahan Penulis Pemula dalam Menetapkan Ekspektasi
Salah satu kesalahan penulis pemula yang pernah aku lakukan adalah menetapkan target menulis 2.000 kata per hari. Tapi karena pekerjaan utama dan aktivitas lain, target itu malah membuatku stres dan merasa gagal terus-menerus.
Banyak penulis pemula bertanya, “Sebenarnya berapa lama sih sebaiknya menulis setiap hari?” Jawabannya: tidak ada aturan pasti.
Bukan soal berapa banyak tulisan yang dihasilkan dalam sehari, tapi bagaimana kita menjaga konsistensinya dalam jangka panjang.
Akhirnya aku belajar menyesuaikan ekspektasi dan kemampuan pribadi. Dimulai dari target menulis 20–30 menit per hari, bahkan jika hanya menghasilkan 300–500 kata.
Penting untuk diingat dan dilakukan: tetap menulis. Sedikit demi sedikit, lama-lama selesai juga.

Selain itu, satu hal yang sangat membantuku adalah dengan menyusun jadwal menulis pribadi, walaupun sederhana.
Dengan punya waktu khusus yang aku dedikasikan untuk menulis—baik pagi sebelum kerja atau malam sebelum tidur—aku jadi lebih disiplin dan tidak lagi merasa menulis itu “hanya kalau sempat”.
Kalau kamu juga merasa kesulitan menulis di tengah kesibukan, kamu bisa baca pengalamanku lebih lengkap di artikel ini:
🔗 Cara Mengatur Jadwal Menulis di Tengah Pekerjaan Penuh Waktu
Dengan jadwal dan target yang realistis, aku bisa tetap produktif tanpa merasa terbebani.
4. Mengirim Karya Mepet Deadline Tanpa Mengevaluasi Dulu
Salah satu kesalahan penulis pemula yang paling aku sesali adalah saat ikut kompetisi menulis cerpen dan memutuskan untuk mengirim naskah di detik-detik terakhir sebelum deadline.
Waktu itu aku merasa naskahku sudah cukup bagus dan rapi, toh aku sudah baca beberapa kali saat swasunting.
Kenyataannya, setelah nahkah dikirim dan aku baca ulang keesokan harinya, aku menemukan satu kesalahan cukup fatal di bagian cerita yang seharusnya jadi twist penting. Dan tentu saja… sudah terlambat untuk diperbaiki.
Kejadian ini cukup menamparku. Bukan karena kalah lomba (kalau itu sudah biasa ;D), tapi karena aku jadi sadar bahwa aku sendiri belum benar-benar mengusahakan yang terbaik dari karya itu.
Sebagai penulis pemula, kita kadang terlalu semangat mengejar deadline, tapi lupa bahwa tulisan yang baik butuh waktu untuk dipoles.
Evaluasi dan swasunting (self-editing) itu penting. Bukan hanya soal typo, tapi juga tentang alur, logika cerita, bahkan kedalaman emosi tokoh.
Tips yang Sekarang Aku Terapkan:
- Selesaikan karya setidaknya 1 hari sebelum deadline, supaya masih punya waktu baca ulang dengan kepala dingin, sebelum submit.
- Jarakkan waktu antara selesai menulis dan proses editing, idealnya 12–24 jam.
- Baca ulang dengan bersuara atau minta bantuan teman jadi pembaca beta, kalau memungkinkan.
- Jika waktunya mepet banget, setidaknya baca ulang dua kali: satu untuk logika alur, satu untuk typo dan struktur kalimat.
Sejak kejadian itu, aku belajar bahwa kualitas tulisan nggak cuma ditentukan dari ide besar yang kita punya, tapi dari waktu dan perhatian yang kita beri di tahap akhir.
Sekarang aku berusaha untuk nggak lagi menyesal setelah menekan tombol “submit“.
5. Menunggu “Siap”: Kesalahan Penulis Pemula yang Membuat Tulisan Tak Pernah Dibagikan
Kesalahan penulis pemula yang lain adalah dulu, aku sering berpikir, “Nanti aja deh, naskah ini dibagikan kalau udah bener-bener bagus.” Tapi kenyataannya? Rasa “siap” itu nggak pernah benar-benar datang.
Ada saja yang bikin ragu. Terkadang karena ceritanya terasa terlalu sederhana, atau justru karena tema yang aku tulis nggak sesuai dengan tren yang lagi ramai di luar sana.
Aku juga sering membandingkan tulisanku dengan karya orang lain yang lebih berani, lebih puitis, atau lebih “laku”, lalu merasa karyaku nggak akan cukup menarik untuk dibaca.
Pengalaman yang makin bikin mental jatuh adalah ketika aku akhirnya memberanikan diri ikut lomba menulis pertama kali. Tetapi justru mendapat feedback yang cukup “keras”.
Kritik itu sebenarnya membangun, tapi waktu itu aku belum cukup siap mental. Aku langsung menarik diri, merasa nggak berbakat, dan berpikir: mungkin memang aku tidak punya bakat menulis.

Tapi setelah jeda beberapa waktu, aku pelan-pelan sadar bahwa kemampuan menulis nggak ditentukan semata-mata oleh bakat.
Justru yang lebih berperan besar adalah kegigihan untuk terus belajar. Kemauan berlatih tanpa lelah, dan keberanian menghadapi kritik.
Terus memperbaiki kesalahan-kesalahan yang muncul di sepanjang perjanalan menulis kita.
Kenapa Ikut Proyek atau Kompetisi Penting Buat Penulis Pemula:
- Menjadi ajang latihan yang terarah, dengan tema dan tenggat waktu yang jelas.
- Melatih mental untuk menerima penolakan atau kritik secara lebih dewasa.
- Menambah jam terbang, pengalaman, dan bahkan koneksi dengan sesama penulis.
- Bisa belajar banyak dari pemenang lomba—dari gaya menulis sampai cara membangun cerita yang kuat.
- Secara nggak langsung, juga membentuk sistem kerja. Kamu jadi lebih disiplin, nggak menunda-nunda, dan terbiasa menyelesaikan tulisan sampai selesai.
Sekarang aku percaya bahwa berbagi karya bukan soal siap atau tidak siap. Tapi soal berani demi untuk terus bertumbuh.
Kritik mungkin tetap terasa perih, tapi kalau kita cukup terbuka dan punya tujuan jangka panjang, itu bisa jadi batu loncatan, bukan penghalang.
Aku juga belajar bahwa tidak semua kritik harus diambil hati. Beberapa masukan memang membangun, tapi ada juga yang hanya menjatuhkan atau lahir dari selera pribadi.
Kita berhak bahkan wajib menyaring mana yang benar-benar bisa membantu kita berkembang, dan mana yang sebaiknya cukup disenyumin lalu dilewatkan saja.
Kalau kamu pernah mengalami satu atau bahkan semua kesalahan di atas, kamu tidak sendiri. Aku pernah ada di titik itu, dan mungkin akan sesekali mengulanginya lagi.
Hal yang paling penting adalah kita terus belajar, terus mencoba, dan tidak patah semangat untuk terus berkarya.
Jangan tunggu siap. Jangan tunggu sempurna. Tulis saja.
Dari kelima kesalahan penulis pemula ini, mana yang paling relate sama kamu? Atau kamu punya pengalaman lain sebagai penulis pemula?
Cerita, yuk, di kolom komentar atau DM aku di Instagram!
***
888bgay, fam! If you’re lookin’ for some entertainment, this is the place to be. Wide variety and always somethin’ new to try! 888bgay